Bila punya tanah luas, jangan menghabiskannya untuk bangunan. Membangun rumah kecil dan membiarkan halaman tetap luas adalah langkah yang bijaksana.
Di atas tanah seluas 3.000 m2, di bawah bayang-bayang pohon rambutan, mangga, durian, di samping ratusan pohon anthurium, di tengah kicau burung, di situlah Endang Dartiman (50) menetap bersama sang istri—Des Emmylia (48)—dan ketiga orang anaknya.
Kebun ini sudah lebih dulu lahir dibandingkan rumah tinggalnya. Kalaupun tadinya ada sebuah bangunan di sana, itu cuma untuk istirahat atau kunjungan sesekali. Fungsinya lebih mirip vila. Tapi dua tahun lalu, Endang mulai merasakan ingin tinggal di tempat yang nyaman, asri, di antara tanam-tanaman kesayangannya. Saat itulah ia mulai membangun sebuah rumah baru di tengah kebunnya. Sudah satu tahun ia menempatinya. Di sini pula ia menjalankan usaha Daunku Nursery yang kini dirajai tanaman anthurium yang sedang naik daun.
Di halaman rumahnya yang begitu luas, ada banyak sekali tanaman, baik tanaman buah maupun tanaman hias. Sedangkan di bagian belakang ada sebuah green house untuk “tempat tinggal” anthurium-nya.
Dalam mendesain dan membangun rumah ini, Endang dibantu oleh seorang temannya yang berprofesi sebagai Arsitek. Sebelum mendesain, sang teman bertanya, “mau minimalis, modern, atau apa?” Endang cuma menjawab, “Terserah saja. Saya tidak ngerti.” Jadilah desain seperti yang sekarang ini. Ada beberapa perubahan di lapangan yang diajukan oleh Endang karena beberapa alasan, tapi tidak banyak.
Untuk bentuk rumah, Endang lebih suka model terbuka, tanpa lika-liku dan tanpa banyak penghalang. “Saya suka dengan keterbukaan. Saya mau rumah saya kesannya welcome,” terang Endang. “Privasi cukup di ruang tertentu saja, seperti kamar tidur,” tambahnya.
Menurut Endang, dengan rumah yang bentuknya terbuka, ia bisa dengan mudah berkomunikasi dengan seluruh anggota rumah. “Anak saya mau berangkat sekolah pun, saya bisa langsung lihat,” jelasnya.
Tadinya 1 Lantai
Rumah ini awalnya hanya satu lantai. “Rumah tingkat itu kan untuk orang yang kekurangan lahan,” ujarnya memberi alasan mengapa rumahnya tidak dibuat dua lantai. Tapi ketika ia berada di dalam rumah, di bagian sisi kiri, “saya lihat ke atas plafon, kok tinggi banget,” ujar Endang. Plafon ini tinggi karena seperti yang terlihat dari tampak luar, bagian ini berupa menara. Karena itu dibuatlah lantai 2, yang hanya berisi satu kamar tempat anaknya berlatih menggebuk drum, dan satu ruang duduk kecil. Inilah salah satu contoh perubahan yang terjadi di lapangan.
Kolam
Terinspirasi sebuah hotel di Denpasar, Bali, yang sering menjadi tempat inapnya saat liburan, Endang minta pada arsiteknya untuk dibuatkan kolam di bagian depan rumahnya. Selain itu, menurut Endang, adanya kolam akan berefek baik pada tanaman-tanamannya yang membutuhkan kelembapan.
Sebenarnya Endang tidak ingin kolam sebesar ini, karena khawatir kesulitan memeliharanya. Tapi atas saran arsiteknya yang mengatakan sayang bila halaman seluas itu hanya dibuat kolam kecil, ia akhirnya menuruti saran tersebut. Tapi apa yang ia khawatirkan ternyata terjadi. Kolam mengalami kebocoran, dan walaupun sudah dilapisi waterproofing, kebocoran tetap ada dan ia tidak bisa menemukan sumber kebocoran tersebut. Alhasil, kolam tersebut lebih sering dibiarkan kering, seperti juga saat pemotretan berlangsung.
Jembatan
Bila dilihat pada gambar, ada sebuah jembatan yang menghubungkan antara halaman dengan teras, yang akan menyeberangkan orang melewati kolam. Semula jembatan ini dirancang berbentuk balok-balok terpisah. Akan terlihat lebih indah, tentunya. Tapi Endang lalu teringat ada saudaranya yang sudah sepuh, ada yang menggunakan kursi roda, ada anak-anak, akhirnya ia memutuskan untuk membuat jembatan berupa satu jalan yang tidak terpotong, yang akan lebih aman.
Mushola di Sisi Rumah
Salah satu bagian menarik dari rumah ini adalah mushola yang diletakkan di samping rumah. Mushola ini menarik karena berupa gazebo dan letaknya di atas kolam ikan. Jendela kamar tidur utama membuka ke arah mushola ini. Sedangkan musholanya sendiri bisa diakses melalui pintu yang ada di ruang makan dan juga ruang keluarga. Jadi, bila ingin melihat ikan-ikan berenang sambil makan atau sambil duduk-duduk, tinggal membuka pintu lipat kaca. Tapi bila Endang sekeluarga mulai bosan melihat ikan, mereka bisa duduk di teras depan, di tepi kolam, sehingga bisa mendengar celoteh aneka burung yang sering datang tanpa diundang. Ada pipit, perkutut, kutilang. Itulah enaknya punya rumah di tengah kebun.
Penulis: Made Mardiani Kardha (Tabloid Rumah)
Sumber: Tabloid Rumah

