Menyatukan Taman dan Bangunan

Posted at July 28th, 2008 by admin

Pada saat memasuki Gedung Pusat Pengembangan dan Pelatihan Bahasa Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, untuk bertemu Romo Budi Subanar, awal pekan, saya seperti memasuki masa lalu. Selain berhadapan dengan dinding bangunan yang telihat kokoh, ada sederet anak tangga menghadap ke sisi dalam, di mana sebuah pohon damar ukuran raksasa tegak berdiri.

Tadinya saya pikir bangunan tua dan sederhana, yang kira-kira dibangun pertengahan tahun 1950-an, ini pastilah sudah usang. Nyatanya saat berada tepat pada anak tangga pertama dan memandang sekeliling, hal yang paling istimewa pada gugusan bangunan ini ialah seluruh dinding terbentuk oleh deretan jendela kaca. Di atas sebuah kanopi dari beton terpasang pula deretan kaca tua yang kondisinya terawat baik.

Setelah melintasi taman yang asri berukuran kira-kira 40 x 20 meter, sebuah koridor memanjang yang menghantarkan saya pada gugusan bangunan kedua. Di situlah Romo Banar (panggilan sehari-hari untuk Romo Budi Subanar) bersama St Sunardi, yang belum lama saya kenal, berkantor. Mereka berdua membidani kelahiran Program Magister Ilmu Religi dan Budaya, satu dari tiga program magister di Universitas Sanata Dharma.

Ruangan di sisi koridor hampir seluruhnya berdinding tembok tebal dengan ketinggian mencapai lima meter. Dengan mudah pula kita tandai jendela-jendela yang berderet memakai kaca patri sebagaimana yang banyak kita jumpai dalam bangunan-bangunan yang menggunakan gaya art deco. “Ini kaca masih aslinya. Selalu di setiap bingkai kacanya ada desain SV,”kata Romo Banar ketika membimbing saya menuju ruangan St Sunardi yang menjadi Ketua Program Magister Ilmu Religi dan Budaya.

SV tak lain singkatan dari sapientia et virtve (kira-kira artinya kebijaksanaan dan keutamaan). Kata-kata ini tak lain dari semacam semangat gedung bernama Asrama Realino yang didirikan tahun 1955 untuk menampung para mahasiswa luar kota yang belajar di kota Yogyakarta. “Jadi dulu ini asrama mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia, apa pun etnis dan agamanya,” ujar St Sunardi. Tak heran jika di areal ini terdapat begitu banyak ruangan dan kamar mandi. Bahkan dapur pun terlihat dalam ukuran massal, di mana terdapat cerobong asap menjulang pada atapnya. Jangan heran dapur itu kini menjadi ruangan seminar dan kamar-kamar para mahasiswa menjadi ruangan kuliah dan ruangan para dosen.

Fungsional
Sesuai dengan fungsinya waktu itu, menampung puluhan mahasiswa, tak heran jika taman menjadi sangat penting. Taman tidak saja diadakan dengan semangat keindahan, tetapi juga ruang komunikasi informal bagi segenap penghuninya. Oleh sebab itulah, bangunan-bangunan di kompleks ini selalu tumbuh di sekeliling taman. Dan elemen-elemen penting bangunan, seperti pintu, jendela, dan tangga, senantiasa berorientasi pada taman. Ibaratnya, kalau para penghuninya buka pintu dan jendela atau turun dari tangga di lantai dua, mereka selalu berhadapan dengan taman yang terawat baik.

“Taman yang terurus baik selalu menjadi cermin penghuni dalam rumah,” ujar St Sunardimengutip sebuah pepatah lama. Pada masa sekarang ketika bekas asrama mahasiswa itu berada di bawah Yayasan Sanata Dharma, pemanfaatan setiap ruangan pun tak jauh bergeser.

Bedanya, jika dahulu sebagai tempat tinggal, kini ruangan-ruangan difungsikan sebagai proses transformasi ilmu, berdiskusi, serta kegiatan-kegiatan seputar keilmuan dan kebudayaan. Oh, ya, di salah satu taman di tempat itu terdapat sebuah pohon besar bernama beringin soekarno. Nama ini berhubungan dengan Presiden RI pertama Soekarno yang menanam pohon beringin ketika meresmikan

Perguruan Tinggi Pendidikan Guru Sanata Dharma tahun 1960. Kini di bawah rerimbunan daun dan akar-akar yang merambat jauh, para pegiat ilmu dan kebudayaan menyelenggarakan diskusi dan pentas kesenian. Dengan begitu, kompleks ini mengisyaratkan bahwa taman dan bangunan, apalagi institusi yang berkaitan dengan proses transformasi keilmuan dan kebudayaan, senantiasa menjadi satu bagian tak terpisahkan. Taman tak hanya menjadi penyegar tatkala penat berdiskusi di ruang-ruang kelas, tetapi juga menjadi ruang “publik” yang menghilangkan sekat-sekat struktural kelas. “Orang kan bisa berbicara secara informal dengan siapa saja, tentang apa saja di taman,” ujar Romo Banar.

Sungguh jarang manusia kontemporer memikirkan penyatuan unsur alam dengan daya pikir manusia belakangan ini. Mungkin mereka sudah mulai kehilangan kreativitas ketika lahan- lahan menyempit dan pilihan akhirnya jatuh pada gedung-gedung menjulang. Di Yogyakarta, pilihan itu masih mungkin dihindari.

Sumber: Tabloid Rumah

Leave a Reply