Selasa, 22 Juli 2008 | 10:26 WIB
JAKARTA, SELASA – Kurs rupiah Selasa (22/7) pagi melemah melewati angka batas psikologis Rp 9.150 ke posisi Rp 9.164 per dollar AS karena pelaku melepas rupiah akibat merosot pertumbuhan ekonomi dunia dan masih tingginya harga minyak mentah dunia. “Ekonomi dunia yang melemah dan tingginya harga minyak mentah dunia merupakan faktor-faktor yang menekan rupiah kembali melemah,” kata analis valas PT Bank Himpunan Saudara Tbk, Rully Nova, seperti dikutip Antara di Jakarta.
Menurut Rully Nova, nilai tukar rupiah meski saat ini merosot dinilai masih stabil, melihat target pemerintah yang menetapkan rupiah pada kisaran antara Rp 9.000 sampai Rp 9.500 per dollar AS. “Koreksi harga terhadap rupiah saat ini hanya sementara dan mata uang lokal itu kemungkinan akan kembali membaik,” tuturnya.
Rupiah, ujarnya, masih berpeluang untuk kembali menguat karena sentimen pasar masih tinggi, terutama dengan masuknya dana asing ke pasar domestik setelah pemerintah menerbitkan obligasi negara. “Kondisi yang stabil dan tinggi bunga rupiah yang cukup tinggi merupakan daya tarik terhadap investor asing untuk tetap bermain di pasar domestik,” katanya.
Pemerintah harus bisa melakukan pendekatan terhadap investor asing agar mereka mau menempatkan dananya dalam jangka panjang yang pada gilirannya akan mengurangi tingkat pengangguran dan daya beli masyarakat yang lebih baik. “Pemerintah juga harus mampu memanfaatkan pertumbuhan ekonomi Asia yang masih tinggi, seperti Cina dan India, setelah BI menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal ketiga 2008 akan melambat,” tuturnya.
Menurutnya, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal ketiga 2008 diperkirakan berkisar antara 6,1 hingga 6,5 persen lebih rendah dibandingkan dengan kuartal sebelumnya yang mencapai 6,51 persen.
Rully Nova juga mengatakan, pasar uang domestik masih memberikan gain yang lebih baik terhadap investor asing sehingga penempatan dana asing itu cenderung meningkat. “Apalagi, selisih bunga antara rupiah dan dollar AS tetap tinggi, mencapai 6,75 persen, akan mendorong investor kembali aktif bermain di pasar Indonesia,” katanya.
EDJ
Sumber: Kompas

