Rabu, 25 Juni 2008 | 15:59 WIB
JAKARTA, RABU – Kalangan pengusaha menyesalkan demo brutal yang terjadi di depan Gedung DPR RI, dan kampus Atmajaya pada Selasa (24/6) kemarin. Pasalnya, selain merusak aset-aset negara, kalangan dunia usaha pun ikut resah atas demo yang berakhir brutal.
“Bagi kami itu sangat menakutkan. Pengusaha-pengusaha menanyakan pada saya ini bisa terjadi seperti 10 tahun lalu tidak, tapi untung ini bisa dicegah sehingga kekhawatiran tidak terjadi,” kata Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofyan Wanandi di Istana Negara, Jakarta, Rabu (25/6).
Menurut Sofyan, kekhawatiran tidak semata-mata merisaukan pengusaha lokal, pengusaha-pengusaha asing bahkan ikut terperanjat atas kebrutalan aksi mahasiswa di Jakarta tersebut. “Saya juga ditanya oleh pengusaha luar negeri.Mereka tanya, ada apalagi di negara you? Ini sangat merugikan,” ujarnya.
Mengusung tema antikenaikan harga BBM, pengusutan tuntas atas tewasnya seorang mahasiswa Universitas Nasional, Maftuh Fauzi, dan desakan mundur duet SBY-JK, Selasa sore, berlangsung hingga mentari tenggelam. Tidak lagi berakhir tenang, mahasiswa dan polisi terlibat ‘adu kekerasan’.
Menyangkut aksi kekerasan tersebut, Sofyan menyatakan, selaku mahasiswa yang tenar dalam intelektualitasnya, semestinya tidak bertindak anarkis. “Apa pun you boleh nggak senang karena permintaan you tidak diterima. Tapi ini akhirnya rakyat merasa you sama saja dengan preman-preman yang lain,” jelasnya.
“Itu harus kita cegah. Itu tidak boleh dilakukan mahasiswa, bakar-bakar mobil itu bukan mahasiswa. Itu counter produktif dengan apa yang you inginkan,” tukasnya.
Ketika ditanya apakah demo mahasiswa ini akan berlanjut seperti peristiwa penggulingan Soeharto pada 10 tahun lalu, dengan lugas Sofyan memperkirakan demo tidak sampai sejauh itu. “Saya rasa tidak, karena kelompoknya hanya kecil. 1.000 atau 2.000 orang, tapi saya kaget kok ditunggangi dengan brutal. Jalan tol dirusak, mobil dibakar. Itu preman bukan mahasiswa. Saya takut sekali, orang tahulah ini tahun politik. Tapi ini belum waktunya, sudah mulai panas,” ungkapnya.(Persda Network/ade mayasanto)
Sumber: Kompas

