Dampak Ekonomi AS Masih Terasa Hingga 2010

Posted at June 25th, 2008 by admin

Rabu, 25 Juni 2008 | 16:30 WIB

Laporan Wartawan Kompas Orin Basuki

SINGAPURA,RABU – Dampak krisis ekonomi di Amerika Serikat diperkirakan masih akan tetap mempengaruhi perekonomian dunia termasuk Indonesia hingga 2010. Itu dimungkinkan karena pemulihan perekonomian Amerika diperkirakan masih akan memerlukan waktu paling cepat tiga tahun , terhitung sejak negara itu didera krisis penyaluran kredit bermasalah di sektor properti atau subprime mortgage pada Juli 2007.

Kepala Peneliti Ekonomi untuk Kawasan Asia Tenggara dari Bank Standard Chartered, Tai Hui di Singapura, Rabu (25/6). Hui berbicara dalam Asia Energy Executive Education (AEEE) yang digelar General Electric (GE) Energy.

Menurut Hui, dalam dua hingga tiga tahun mendatang, perekonomian global masih akan dipengaruhi oleh perlambatan ekonomi Amerika. Atas dasar itu, negara-negara yang terkena dampak diharuskan mengembangkan kreatifitas ekonomi nya agar bisa bertahan dalam kondisi yang sulit itu.

Perlambatan ekonomi dunia itu akan diiringi laju inflasi yang tinggi. Namun, beruntung, India dan China diharapkan masih akan tumbuh perekonomiannya, sehingga negar a-negara di Asia bisa berharap banyak dari kedua negara tersebut, ujar hui.

Perlambatan ekonomi Amerika menimbulkan berkurangnya daya beli konsumen di negara itu. Kondisi tersebut langsung berdampak kepada perekonomian dunia karena Amerika menyedot sekit ar 30 persen ekspor dunia. Ketika permintaan dari negara tersebut turun, nilai ekspor pun akan turun. Turunnya nilai ekspor inilah yang dikhawatirkan akan menyeret negara-negara di Asia ke perlambatan ekonomi kawasan.

Kami perkirakan, perekonomian dunia akan pulih kembali pada tahun 2020, ketika Amerika sudah pulih, sementara India dan China semakin kuat secara ekonomi, ujar Hui.

Pada bulan Januari 2008, perekonomian dunia diperkirakan masih akan tumbuh sekitar 4 persen. Namun, pada Maret 2008, para ana lis memperkirakan pertumbuhan dunia akan semakin lambat ke posisi 3,8 persen.

Sumber: Kompas

Leave a Reply