Pasar antisipasi tingkat inflasi Juni

Posted at June 23rd, 2008 by admin

JAKARTA: Transaksi di bursa saham sepanjang pekan ini diperkirakan makin fluktuatif, karena pelaku pasar mulai memasuki periode antisipasi terhadap realisasi inflasi bulan ini yang diduga meninggi.

Kenaikan harga (gain) sesaat yang sempat melanda beberapa surat utang pada akhir pekan lalu diperkirakan tertahan dan bahkan terkoreksi kembali karena sentimen negatif inflasi.

Kepala Riset PT Paramitra Alfa Sekuritas Pardomuan Sihombing mengatakan saham-saham emiten yang berorientasi ekspor akan menjadi penyangga tekanan yang terjadi di pasar pada pekan ini.

“Dengan ekspektasi inflasi yang tinggi, pelaku pasar akan memilih saham-saham emiten eksportir, yang sebagian besar juga terkait dengan komoditas seperti emiten pertambangan, perkebunan, dan industri kimia,” tuturnya akhir pekan lalu.

Pola transaksi demikian, lanjutnya, akan membantu mengurangi tekanan yang menimpa saham-saham perbankan dan sektor lain yang sensitif terhadap inflasi dan suku bunga.

Akibatnya, indeks harga saham gabungan akan bergerak sideways (menyamping) dari kisaran support 2.345 hingga resistance 2.437. Level psikologis 2.300 bisa terlewati jika posisi support tersebut tertembus.

“Tanpa saham-saham komoditas, indeks tahun ini akan terkoreksi lebih dalam. Tapi jika pasar dilanda kekhawatiran berlebih sehingga level support tertembus, indeks secara teknis akan melewati level 2.300.”

Sebaliknya, tambahnya, level resistance 2.437 kemungkinan sulit dicapai karena pasar masih terjebak dalam tren melemah akibat sentimen negatif di dalam ataupun luar negeri.

Indeks telah kehilangan 72,5 poin selama bulan ini. Akhir pekan lalu, indeks ditutup di level 2.371,78, atau berkurang 3% dibandingkan dengan posisi penutupan akhir Mei pada 2.444,3. Pada akhir 2007, indeks berada di level 2.745,83.

Tren kenaikan harga minyak mentah dan harga pangan dunia menyebabkan inflasi domestik dan global meninggi, yang diikuti penghentian pemangkasan suku bunga The Fed yang akan diikuti kenaikan BI Rate.

Inflasi tinggi

Pardomuan menambahkan pasar obligasi kemungkinan masih tertekan karena sentimen inflasi tinggi. Lelang surat utang negara juga akan memberi tekanan tambahan jika hasilnya tidak sesuai dengan ekspektasi.

Inflasi pada Mei tercatat 1,41%, melambung dibandingkan dengan inflasi April sebesar 0,57%. Meski lebih tinggi dari ekspektasi pasar sebesar 1,1%, angka itu dinilai belum mencerminkan dampak kenaikan harga BBM Mei sebesar 29%.”Yang membuat harga obligasi naik pekan lalu karena ada lelang obligasi global. Tapi, pemerintah harus mengantisipasi risiko nilai tukar dan kenaikan rasio utang luar negeri.”

Akhir pekan lalu, harga-harga obligasi menguat setelah pemerintah melepas obligasi dolar senilai US$2,2 miliar.

Analis UBS AG Nizam Idris menilai pasar obligasi menguat bukan karena faktor obligasi global saja, melainkan karena kebijakan BI mengendalikan inflasi. (arif.gunawan@bisnis.co.id)

Oleh Arif Gunawan S.
Bisnis Indonesia

Leave a Reply